Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa IHSG selalu bergelombang, tidak garis lurus sehingga ya bagaimana para investor / trader bisa memanfaatkan situasi itu. Sekalipun prediksi IHSG akan naik tetapi dalam perjalanannya akan mengalami pasang surut dulu., dan ini sesuatu yang wajar dan sehat.
Indanaz
Senin, 08 September 2014
Pergerakan IHSG
Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa IHSG selalu bergelombang, tidak garis lurus sehingga ya bagaimana para investor / trader bisa memanfaatkan situasi itu. Sekalipun prediksi IHSG akan naik tetapi dalam perjalanannya akan mengalami pasang surut dulu., dan ini sesuatu yang wajar dan sehat.
Tugas Puskom
Senin, 24 Juni 2013
Kamis, 15 Juli 2010
The Black Death


The Black Death
The Black Death came in three forms, the bubonic, pneumonic, and septicemic. Each different form of plague killed people in a vicious way. All forms were caused by a bacterium called Yersinia pestis.
The bubonic plague was the most commonly seen form of the Black Death. The mortality rate was 30-75%. The symptoms were enlarged and inflamed lymph nodes (around arm pits, neck and groin). The term 'bubonic' refers to the characteristic bubo or enlarged lymphatic gland. Victims were subject to headaches, nausea, aching joints, fever of 101-105 degrees, vomiting, and a general feeling of illness. Symptoms took from 1-7 days to appear.
The pneumonic plague was the second most commonly seen form of the Black Death. The pneumonic and the septicemic plague were probably seen less then the bubonic plague because the victims often died before they could reach other places (this was caused by the inefficiency of transportation). The mortality rate for the pneumonic plague was 90-95% (if treated today the mortality rate would be 5-10%). The pneumonic plague infected the lungs. Symptoms included slimy sputum tinted with blood. Sputum is saliva mixed with mucus exerted from the respiratory system. As the disease progressed, the sputum became free flowing and bright red. Symptoms took 1-7 days to appear.
The septicemic plague was the most rare form of all. The mortality was close to 100% (even today there is no treatment). Symptoms were a high fever and skin turning deep shades of purple due to DIC (disseminated intravascular coagulation). According to Dr. Matt Luther, Vanderbilt University Medical Center "The plague often caused DIC in severe forms, and DIC can be fatal. The picture above demonstrates what DIC can look like. In its most deadly form DIC can cause a victims skin to turn dark purple. The black death got its name from the deep purple, almost black discoloration." Victims usually died the same day symptoms appeared. In some cities, as many as 800 people died every day.
Rabu, 14 Juli 2010
Letusan Gunung Tambora 1815 Terdahsyat di Dunia

MATARAM -- Letusan Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terjadi pada tahun 1815 merupakan yang terdahsyat didunia dan menewaskan 92.000 orang."Letusan Gunung Tambora tersebut terjadi 10 - 11 April 1815 sekitar 30 kilometer arah tenggara Satonda," kaka Dr. Catur Sugiyanto, MA dari Pusat Studi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta di Mataram
TAMBORA VS VESUVIUS
Taukah anda tentang ledakan gunung Vesuvius yang terjadi pada 79 m.. ?. letusan gunung tersebut meneggelamkan suatu kota yang ada di romawai yang bernama pompeii serlama 1600 tahun. Dari informasi yang saya dapat dari vcd harunyahya, disitu dikatakan bahwa letusan gunung tersebut membunuh seketika orang-orang di kota pompeii, ini di buktikan dari temuan mayat orang yang lagi makan di meja makan bersama keluarganya dan banyak lagi bukti lain.
Ternyata tidak hanya vesuvius yang memiliki letusan yang dahsyat, di Dompu pun pernah terjadi letusan gunung yang sangat dahsyat yang bernama gunung TAMBORA.
Pada tahun 1815, gunung tambora mengalami letusan dahsyat, gemuruh yang dihasilkan gunung tambora terdengar sampai makasar, Batavia, Ternate dan sampai Sumatra yang jaraknya lebih dari 2600 km dari Tambora. Letusan menimbulkan gempa vulkanik lebih kurang lebih 7 SR.
Akibat letusan Tambora antara lain Tsunami besar menyerang pantai beberapa pulau di Indonesia pada tanggal 10 April, dengan ketinggian diatas 4 m di Aanggar pada pukul 10:00 malam. Tsunami setinggi 1-2 m dikaoirjab terjadi di Besuki, Jawa Timur sebelum tengah malam dan tsunami setinggi 2 m terjadi di Maluku. Tinggi asap letusan mencapai stratosfer, dengan ketinggian lebih dari 43 km.[3] Partikel abu jatuh 1 sampai 2 minggu setelah letusan, tetapi terdapat partikel abu yang tetap berada di atmosfer bumi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10-30 km. Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat terjadinya fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat di London, Inggris diantara tangal 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815. Pancaran cahaya langit senja muncul berwarna orange atau merah didekat ufuk langit dan ungu atau merah muda diatas.
Letusan gunung ini juga di perkirakan mengubur kesultanan kecil yang ada di kaki gunung tambora.